Friday, June 26, 2020

Jangan kau jual dirimu dengan harga murah!



Janganlah kau jual dirimu dengan harga yang murah, padahal 
kamu sangat indah di mata Tuhan. - Rumi

Banyak manusia, terkhusus kaum muslimin yang menggadaikan misi suci atau perintah yang Allah titipkan kepadanya malah disia-siakan dan diabaikan. Padahal amanah ini begitu berharga jika saja semua manusia mampu mengerti akan hakikatnya.

Beribadah tulus ikhlas sepenuhnya hanya kepada Allah. Memprioritaskan hal ini dari berbagimacam hal yang disajikan oleh dunia. Tetapi pada kenyataan tak sedikit kaum muslimin lupa akan tugas ini. Atau yang lebih parahnya lagi, enggan mengemban misi suci.

Apa yang menjadikan mereka tidak peduli akan tugas ini? Karena miskinnya rasa ingin tahu dan malas menelusuri lebih jauh ibadah yang diperintahkan olehNya sehingga ibadah-ibadah itu tak berharga di hadapannya.

Dunia beserta isinya lebih menarik perhatiannya. Ada kepuasan batin ketika manusia bercengkrama dengan dunia. Seolah akan hidup selamanya.

Lihat.. Ini adalah tipuan yang nyata. Berapa banyak orang yang terjerumus dalam keindahan dunia. Keindahan yang limit dan akan sirna. Kita hidup di dunia dibekali umur tidak sampai seribu tahun namun bisa jadi ketika umur masih belasan tahun atau masih kanak-kanak sekalipun, jatah untuk hidupnya sudah tak tersisa lagi.

Permasalahan ini memang pelik dan hasrat duniapun memang sangat memikat. Tak sedikit orang yang terlena oleh keistimewaan dunia, bahkan orang yang sudah paham tentang hakikat dunia ini palsu pun bisa saja lupa dan semakin terpikat oleh dunia.

Pembahasan tentang dunia tak'kan ada habisnya, selalu ada pembaharuan momen dan suasana tapi hakikatnya tetapsama, hanya kefanaan saja.

Wahai pembaca yang budiman, apakah anda pikir sang penulis ini hebat, sudah terbebas dari jeratan keindahan dunia ini? Tentu saja tidak, atas nama pribadi sampai sekarang masih bolak balik tak sadarkan diri sampai lama terpikat oleh dunia dan melupakan alam yang baqa. Setiap kali tersadar, barulah memperbaharui niat dan memprioritaskan untuk mengabdi padaNya. Kita tahu bahwa ini membutuhkan perjuangan yang tidak main-main.

Saya harap kita dimatikan dalam keadaan beriman sepenuhNya kepada Allah dan bisa bersilaturahmi di SurgaNya kelak. Aamiin.

Janganlah kau jual dirimu dengan harga yang murah, padahal 
kamu sangat indah di mata Tuhan. - Rumi




Friday, March 20, 2020

Albert Camus dan Absurdisme




            Ketika kita mempelajari kehidupan suatu tokoh yang berpengaruh di dunia tidak berarti kita harus menerima semua ajarannya atau pemikirannya. Karena tidak semua hal yang baik di masa lalu fleksibel juga di masa sekarang dan yang akan datang.

            Kesempatan kali ini kita akan membahas tentang Albert Camus (dibaca Kamu) beliau adalah seorang filsuf abad ke 20 lahir 1913-1960 kelahiran al Jazair yang masih dalam penguasaannya Prancis dan ia terlahir dalam keluarga miskin dan sakit-sakitan pula. Camus punya penyakit TBC sejak kecil, namun di masa depannya beliau punya gagasan-gasan yang luar biasa.

            Camus lebih suka disebut pembuat esay daripada filsuf, banyak orang yang menyebutnya eksistensialis namun dia tidak mau disebut seperti itu. Beliau pernah ikut partai komunis namun sempat juga mengkritik komunis karena ada berbagai macam hal yang mengganggu idealismenya.

            Ketika Camus mendapatkan nobel penghargaan, beliau mengatakan: “Perasaan apa yang harus aku rasakan, saat menerima kehormatan ini, di saat yang sama banyak penulis di eropa yang tidak boleh ngomong (dibungkam). Dan bahkan saat ini negaraku (al Jazair) tempat kelahiranku sedang mengalami sakit yang tidak berakhir (karena sedang dijajah oleh Prancis)”.

            Dari ungkapan beliau bisa kita nilai bahwa pergolakan hidup beliau. Hidup yang sedari kecil susah, sakit-sakitan dan negaranya dijajah pula, beliau berjuang demi kemajuan hidupnya. Dan pada akhirnya beliau mengungkapkan bahwa hidup ini absurd (konyol/gak jelas/gajebo) tidak bisa ditebak.

            “Di manapun di sudut-sudut jalan merasa absurd bisa menampar wajah siapapun” merasa absurd itu mempertanyakan suatu hal yang rumit untuk dijwab dan dimengerti. “aku hidup untuk apa?” “ngejar kebahagiaan, gak dapet dapet juga” “aku hidup buat apasih” itulah merasa absurd. 
Ketika kamu mempertanyakan  hal-hal yang berkaitan dengan eksistensimu kamu akan menemukan keabsurdan itu. Nah begitulah mengapa kehidupan ini begitu absurd. Inilah gagasan besar Albert Camus.  

            Hidup ini tidak  pernah kita harapkan, tiba-tiba hidup kita seperti ini. Kita tidak pernah meminta hidup seperti ini. Kita telah merencanakan sesuatu, tapi dikemudian hari rencana-rencana itu tidak kesampaian.

“Dunia ini tidak serapi apa yang kita pikirkan, namun kita selalu ingin menjelaskan dunia ini secara mutlak, secara pasti.” Kita selalu dirisaukan akan hal ini, kita bertengkar tentang konsep yang tidak ada ujungnya.

Orang tua kita mati-matian untuk kita, kita mati-matian mencari nafkah, menyekolahkan dan mengurus anak-anak kita supaya sukses dan seterusnya sampai anak-anak kitapun seperti itu polanya. Bagaimana kita bisa merasakan kebahagiaan jika polanya sama.

Manusia membuat aturan sendiri, repot sendiri, dirubah sendiri, gagap dan gugup sendiri terus saja seperti itu. Dan energi kita habis untuk hal ini. Hiduplah sesuai apa yang kita sanggupi, jangan buat standar-standar yang malah kita khianati sendri. Itulah salah satu gagasan yang ingin dikumandang Camus.

Albert Camus meninggal pada tahun 1960an karena kecelakaan.
“Jika kamu masih mencari kebahagiaan, maka sampai kapanpun kamu tidak akan bahagia".
Sampai di sini tulisan ini berhenti, jika ada saran dan masukan silahkan tulis di kolom komentar.





Thursday, March 19, 2020

Menjadi Manusia Yang Paham Situasi


            Ketakutan lebih cepat menyebar dari apapun, prasangka buruk mulai mencengkram tiap-tiap jiwa manusia, tak ada lagi keharmonisan. Kekuatan tak terlihat menumpas banyak orang yang diincarnya, mereka sangat kecil namun jumlahnya tak terhingga dan mematikan. Dunia mulai chaos, serangkaian ritual ibadah ditiadakan sementara. Ada yang masih bebal karea terlalu bersemangat beragama. Merasa lebih paham tentang keimanannya seakan jiwanya penuh dengan keegoisan dan tanpa ia sadari, ia adalah makhluk terbodoh yang pernah ada. Krisis ilmu, beropini sesuka hati bak ilmuan yang mengerti tentang apapun.

            Kebodohan itu mengerikan, karena orang yang bodoh tipe ini berbahaya, ia bodoh namun tak merasa dirinya bodoh. Berbeda dengan orang yang haus akan ilmu mereka merasa bodoh dan terus merasa bodoh, maka jadilah ia si dahaga ilmu.

            Aku tarik kembali tulisan ini ke topik ketakutan yang menjalar, penuh was-was dan terkadang mematikan rasa kemanusian. Karena was-was, kau melindungi diri dengan berbagai macam alat-alat kesehatan sampai lupa sesama tak bisa merasakannya karena kau menimbun dan ingin sehat sejahtera sendirian. Keogoisan memang topik yang tak pernah mati, rasa takut mati justru mengalahkan segalanya. Ingin rasanya berpikir jernih namun, ketika bangun pagi lima detik setelah sadar, ceruk-ceruk dalam kepala mulai mebuatku sakit seolah tak ada lagi yang bisa kuperjuangkan, selain terlelap lagi sejenak. Oh tidak.. ternyata agak begitu lama.

            Pada peristiwa kali ini, kekuatan tak terlihat itu berhasil menampakkan orang-orang yang terlalu bersemangat dalam beragama namun miskin ilmu. Kau tau, hal ini sangat berbahaya, kedunguannyalah yang membuat segalanya berantakkan. Merasa punya Tuhan yang akan selalu melindunginya dalam kondisi apapun, tapi ia tak mampu mengerti tentang bagaiman untuk bisa mengerti mauNya Tuhan.

            Segeralah enyah dari kedunguan itu dan mulai mempertanyakan kemanusiaan diri, mempertanyakan diri secara rasional untuk apa kita diciptakan dan untuk apa kita dihidupkan. Kita dituntut untuk hidup bersama dalam spirit kebersamaan, saling bantu anatar sesama dan pastilah tercipta keharmonisan dalam bermanusia. Menjadi manusia yang seutuhnya manusia adalah memanusiakan manusia, begitu kata para cedikiawan yang bergelut dalam bidang pendidikan, terutama pendidikan akhlak manusia. 

            Kekuatan tak terlihat ini pasti akan menjadi daftar peristiwa dalam sejarah dan takkan terlupakan. Karena dalam peristiwa kali ini di zaman yang sudah sangat canggih, apapun dapat terkenang dengan mudah dan instan. Semuanya bisa disimpan dalam mega database internet yang mengagumkan.

            Segala sesuatu akan terjadi jika memang harus terjadi, segala penyakit pasti ada obatnya jika memang takdir hancurnya semesta belum juga sampai. Teruslah menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

Shoffan Banany
Bogor, 20 03 20





Wednesday, March 18, 2020

BERKELANA (Gaya tulisanku memang seperti ini)


           

            Seperti buang-buang waktu. Tak terasa waktu kian melesat, pikiran terhambat tersesat dalam goncangan keraguan yang kian pekat. Duduk dalam suasana kerinduan masa lalu. Ya biasanya aku sering terjebak dalam kerinduan itu. Bosan dengan kata-kata yang sering kutuliskan dan aku tidak akan lagi menggereskannya pada kertas ini. Kasihan penaku yang sudah berkarat dan juga penuh kebosanan yang semoga ada obatnya.

            Bicara tentang hidup, apakah kau tahu hal yang paling membahagiakan di dunia ini? Banyak hal yang membuat manusia bahagia, tetapi bagiku.. berdialog dengan kekasih yang mampu mengimbangi pembicaraanku adalah lebih dari sebatas kebahagiaan. Karena ketika kita menjadi tua, dialog adalah hal istimewa yang akan tetap kita lakukan dan menghiasi jalan hidup kita setiap waktu. Berbicara tentang waktu, masa yang telah terlewati beserta momen-momen yang membekas, berbicara tentang hari ini yang khawatir akan masa depan, dan belajar untuk menemukan pola dari setiap kejadian yang telah terjadi.

            Kau tahu? Hidup ini penuh dengan pola. Apakah kau pernah tahu akan hal ini, atau hidup hanya sekedar hidup dan tidak pernah memperhatikan setiap gerakan daun yang berjatuhan, pusaran angin yang berhembus, suara burung yang silih berbalas, dan pernahkah kau memperhatikan aroma jalanan beraspal setelah terguyur hujan? Aku adalah orang yang memperhatikan suatu hal yang banyak orang lain tak memperhatikannya.

            Aku memang tak pandai menulis dan mengungkapkan cerita padamu, namun beginilah gaya tulisanku. Acak tak tentu arah, berkecamuknya perasaan yang tak bisa dibendung dan pikiranku masih saja genit dengan ambisinya yang selalu mengada-ngada. Hal itu bukan sekali dua kali, tapi setiap hari. Inilah kutukanku.

            Banyak orang tak mau mengerti tentang sikap frontal apa adanya tanpa memakai topeng ramah yang sejatinya hanya tipuan belaka, yang sejatinya hanya formalitas supaya orang lain juga berlaku baik padanya. Nihil substansi. Banyak orang bergunjing terhadap temannya padahal merekapun enggan untuk digunjingkan jika saja mereka tak sengaja tahu bahwa temannya sedang menggunjingkannya. Banyak hal yang perlu diperbaiki dalam setiap kejiwaan manusia. Banyak faktor yang memengaruhi akan kejiwaan manusia.. bukan hanya teman namun media di internet, linkungan dan lain sebagainya adalah faktor utama yang terkadang membuat jiwa manusia rusak sedikit demi sedikit tanpa disadari.

Shoffan Banany
Bogor, 19 03 20





Thursday, November 7, 2019

Jika kau paham, berarti kau merasakan penderitaan yang sama


Di waktu ini, aku terjebak dalam ilusi yang mematikan nalar dan nurani… kau tahu apa artinya itu? Yaa, itu adalah sebuah kegagalan dalam membina idealisme. Berkali-kali kurasakan, berkali-kali larut dalam kesalahan ini, kucoba untuk memperbaiki, namun tidak membawa perubahan sama sekali.
Aku mencoba untuk tidak berlama-lama dalam kehampaan ini. Kau pasti pernah merasakannya atau mungkin kau sedang merasakannya? Bersabarlah… hanya itu kata yang pantas kuucapkan padamu… kita ini manusia berperasaan random, kadang senang dan terkadang sedih… itu sudah menjadi siklus kehidupan.
Entah kenapa, aku lebih suka mengungkapkan lewat tulisan yang seprti ini daripada harus menyesali keadaan yang tidak mengenakkan apapun itu halnya. Yaa.. rasa sesal itu memang tetap menancap dalam diriku… tapi, aku selalu mencoba untuk meruntuhkannya perlahan demi perlahan.



Sunday, October 20, 2019

Kematian adalah perantara menuju kesejatian



Apa yang akan dilakukan orang-orang untuk terakhir kalinya, ketika mereka tau, bahwa ajal 'kan menjemputnya besok.

Tak ada kompromi dan toleransi. Bayangkan.. hal tersebut terjadi padamu. Dalam kisah itu, kau melakukan sesuatu yang hasil akhirnya kau akan dihukum mati besok pagi.

Di hari itu kau boleh melakukan apaun. Jangan pikrikan tentang hal baik dan buruk. Jangan ada penghukuman dalam dirimu. Izinkan pikiran-pikiran itu datang tanpa kau filter baik dan buruknya. Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya.

Aku tau perasaan takut itu ada, karena besok kau kan tiada. Meninggalkan semua bayangan yang telah kau rekam dalam alat tercanggih ciptaanNya. Walaupun kau belum begitu kenal denganNya.

Hari kematianmu tiba, kesejatianmu meninggalkan dunia. Dan kau pun terbangun di alam yang penuh dengan kesadaran tanpa ilusi. Inilah kehidupan sejati ummat manusia.

Kematian kita di dunia hanyalah perantara menuju kesejatian. Seluruh keyakinan dan prasangkamu terhadap dunia menjelma menjadi tindakkan. Dan tindakan-tindakan itu terhimpun dalam genggamanNya.

Shoffan Banany
Bogor, 20 Oktober 2019




Wednesday, May 15, 2019

Penyelaman Ruhani (Mendobrak penyakit ikut-ikutan “suatu hal” tanpa dasar dan tujuan yang jelas)



Bismillah...

Ada sebuah tulisan singkat yang semoga menginspirasi dan menambah wawasan para pembaca, selain itu semoga bisa mengambil makna terdalam yang tertulis
dalam postingan ini. Berikut pemaparan tentang pengalaman Imam al-Ghazali dalam penyelaman keingin-tahuannya terhadap segala sesuatu.

"Perbedaan manusia mengenai agama, aliran, dan keragaman para imam mazhab adalah samudra yang sangat  dalam, yang telah menenggelamkan banyak orang dan hanya sedikit orang yang bisa selamat.

Sejak memasuki usia balig dalam gejolak muda, saya telah melompat ke kedalaman samudra ini. Saya berenang seperti seorang pemberani, bukan seperti pengecut,
menyelam dan memasuki setiap ruangnya yang diselimuti kegelapan, lalu saya meneliti 
berbagai persoalan dan kerumitan serta menggali problema akidah setiap aliran dan menyingkap rahasia setiap kelompok dan mazhab. Semuanya dilakukan dalam upaya membedakan secara gamblang antara yang menyuarakan kebenaran dan kebatilan, antara penyebar ajaran yang asli dan yang palsu. 

Saya menyelami doktrin kaum Batiniyyah karena tertarik untuk menyingkap 
kedalaman aspek batinnya. Saya mendalami doktrin Zahiriyyah untuk mengukur kemampuan pandangannya yang berdasar pada aspek lahir. Saya tidak mengarungi ilsafat kecuali karena saya ingin mengetahui hakikat kebenaran ilosoisnya. Saya merambah dunia teologi (kalam) karena ingin tahu puncak kecanggihan logika dan pola-pola debat yang digunakannya. Saya memasuki dunia tasawuf karena ingin tahu rahasia kesufian.

Saya mencermati para ahli ibadah karena ingin melihat apa yang mereka peroleh 
dari ibadah yang mereka lakukan. Saya mengenali orang-orang zindiq dan ateis (mu’attilah) untuk meneliti lebih jauh tentang sesuatu yang ada di balik keyakinannya agar bisa mengetahui faktor dan sebab apa yang menggiringnya pada keyakinan dan sikap tersebut.

Rasa haus terhadap pengetahuan tentang hakikat persoalan adalah n:’linat dan kebiasaan saya sejak muda. Ia merupakan karakter dan itrah yang diletakkan oleh Allah Swt. padakepribadian saya, bukan atas kehendak dan rekayasa saya sendiri, sehingga bisa melepaskan diri dari kungkungan sikap taklid dan mampu menghancurkan warisan keyakinan lama semenjak masih belia." (sumber: Tahafut al Falasifah)

Demikian tulisan ini penulis bagikan, kesimpulan yang bisa penulis dapatkan adalah "Telusurilah apa yang mengganggu benakmu, pelajari apa yang ada di dalamnya dan ambilah manfaat jika ada kebaikan yang akan merubah hidupmu. Hancurkan jeratan taqlid, karena itu adalah belenggu yang selalu menemani keapatisanmu."