Di waktu yang lalu hidup ini kusadari adalah sebuah kompetisi. Kita hidup harus sampai pada puncak kesuksesan. Namun kesuksesan itu maknanya sangat pribadi, rumit, entah kapan datangnya dan pastinya fana. Semua ini adalah pemaknaan pribadi.
Friday, October 22, 2021
Tuesday, August 31, 2021
Kalkulator dan Takdir
Dalam tulisan kali ini, kita akan menyimak analogi dari Agus Mustofa tentang takdir.
Anologi ini menurut saya cukup mengena untuk menjelaskan konsep takdir secara sederhana. Hasil beradanya kita di dunia ini adalah kombinasi antara potensi yang diberikan Allah yaitu qada, kemudian berkaitan langsung dengan usaha kita. Laksana memilih tombol yang akan ditekan, ini terserah pengguna dan bergantung ilmunya. Maka hasilnya tak pernah akan keluar dari ketetapan Allah, laksana himpunan hasil yang mungkin dikeluarkan kalkulator pasti sudah diketahui oleh pembuatnya.
Coba kita perhatikan, ketika kita menekan 2 + 2 maka pada monitor kalkulator akan muncul angka 4. Apakah angka 4 itu baru ada ketika kita menekan 2 + 2, ataukah angka 4 itu sudah diprogram sebelumnya oleh si pencipta kalkulator bahwa apabila ada yang menekan 4 + 4 maka sistem kalkulator tersebut akan mengeluarkan angka 4? Tentulah si pencipta kalkulator itu telah memprogram semuanya bahwa apabila kita menekan 1 + 3, hasilnya pun 4 juga. Kalau kita menekan 8 + 2 maka yang keluar bukanlah angka 4 melainkan angka 10.
Begitu juga takdir, Allah telah menciptakan semua mekanisme, sebab akibat yang terurai dalam perjalan waktu. Ibarat kalkulator tadi, tombol nomor yang tertera pada kalkulator itu adalah akses yang menghantarkan kita kepada takdir. Keinginan kita akan sejalan dengan takdir yang dipilih yaitu tombol yang kita tekan tadi. Namun kalkulator takdir ini tentunya berbeda dengan kalkulator alat penghitung. Faktor-faktor yang menyebabkan suatu takdir itu jumlahnya tak terhingga sehingga kemungkinan hasilnya juga tak berhingga.
Salah satu faktor terjadinya takdir itu adalah usaha kita. Jadi, apabila semua faktor sudah mendukung tetapi tidak ada kemauan dari diri kita untuk mencapai takdir tersebut, takdir itu tidak akan terjadi. Sebaliknya juga, apabila kita sudah berusaha sekuat tenaga, namun ada faktor eksternal yang tidak mendukung, maka takdir itu juga tidak akan terjadi. Untuk hal yang seperti ini kita diharuskan bertawakal kepada Allah karena sebenarnya kehidupan di dunia ini hanyalah ujian untuk menilai bagaimana sikap kita terhadap ketetapan Allah. Sikap kita dalam menerima takdir yang diberikan Allah juga merupakan faktor yang menentukan takdir kita di akhirat kelak.
Demikianlah ketetapan tentang takdir. Allah sudah menetapkan takdir bagi kita dalam bentuk potensi, hukum sunnatullah, dan Allah pun memberikan kepada manusia kebebasan untuk memilih akan diapakan ‘kalkulator’ yang telah dikaruniakan kepada kita dalam hidup ini.
Tuesday, January 26, 2021
Menyelam dalam Samudera Kemungkinan
Ada masanya kau terlepas dari hal-hal yang membelenggu hidupmu. Kau sudah tidak lagi browsing tentang bagaimana cara hidup bahagia di internet. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau tanpa penghakiman atau penghukuman baik dan buruk, ketika kau telah dibimbing oleh nuranimu. Kau sepenuhnya berada dalam cinta yang menentramkan.
Kau tidak lagi membandingkan apapun. Tidak ingin berkompetisi dengan siapapun. Tidak ada lagi penyesalan masa lalu dan kecemasan masa depan. Kau berada pada kesadaran paripurna.
Kau sudah muak bergunjing, berdebat, melakukan hal spele yang menguras waktu dan emosi di media sosial. Kau pemilik dari kegiatan yang menyenangkan dirimu sendiri.
Ocehan yang pernah membuatmu padam tak pernah lagi bisa memadamkanmu. Kau menerima segala yang terjadi dalam kehidupan. Kau mengizinkan berbagai peristiwa yang akan terjadi dan belum terjadi tanpa ada prasangka apapun. Kaulah pemilik kebahagiaan.
Kau tidak lagi mempertahankan kebenaran ciptaanmu sendiri yang selalu menganggap orang lain keliru dan tak sejalan dengan pemahamanmu. Kau mengosongkan gelas pikiranmu untuk selalu menemukan pemahaman baru. "Tidak ada kebenaran yang tetap selama kita di dunia, yang ada hanya kebenaran lainnya" bisikmu.
Marilah kita menyelam ke dalam samudera kemungkinan, karena di sana terdapat banyak rahasia yang akan menuntun kita menuju kehidupan yang sepenuhnya hidup. Kita makhluk yang abadi, jangan pernah membatasi diri.
Periksa kembali keyakinan yang kita pertahankan sebelumnya, barangkali ada yang tidak cocok dengan nurani kita. Karena kita terlalu fokus melihat kebanyakan orang mengembannya juga.
Kenali dirimu.
Sunday, January 10, 2021
Kepentingan Yang Tidak Penting
Pernah terbersitkah di pikiran kalian tentang timbal balik like for like di sosmed, terkhusus IG dan FB?
Hal ini baru kusadari setelah lama tidak nongkrong di ke dua sosmed tersebut. Aku malas dengan semua kegiatan komen dan like. Dan ataukah memang algoritmanya sudah berubah dari menit ke menit. Sehingga akun-akun yang jarang aktif harus terasingkan dalam circle yang telah dibangun sejak sekian lama.
Hal ini memanglah sepele, tapi realitas kehidupan dewasa ini sangatlah berbeda. Kegiatan seperti ini sudah menjadi hal yang sensitif sampai-sampai di bawa ke dalam hati. Timbal balik komen ke komen, like ke like sudah menjadi rutinitas bahkan mungkin kewajiban orang-orang yang berada di dalamnya.
Komen dan like yang melambungkan hati para pengguna sosmed dalam lingkarannya sudah menjadi kebutuhan yang amat butuh, bahkan tanpa disadari para penggunanya. Seperti terjadi begitu saja.
Sehingga hati-hati kita tertawan pada ilusi perasaan saling peduli. Padahal lebih besar kefanaannya. Namanya juga maya. Ditambah kemayaan yang sudah menawan hatimu untuk saling peduli dalam ilusi. Ketika semua itu hilang. Serangan mental menghantammu sampai tidak berdaya.
Risih jika postinganmu miskin reaction, komen, share dsb. Kosong tanpa perhatian. Beberapa jam kemudian, kamu langsung hapus kembali postinganmu. Lika liku seperti ini pernah kualami juga. Namun hanya sebentar. Segera kusadari bahwa hal ini adalah distraksi yang jauh dari kesadaran orang yang haus perhatian.
Merasa dituntut oleh perkembangan zaman, sehingga kamu harus populer, harus banyak perhatian, haus akan validasi? Mengorbankan harga diri, memutar otak untuk meraih penyesalan di ujung kesadaran? Padahal dunia dan seluruh kebisuan alam di sekitarnya tidak menuntutmu untuk menjadi unggul di hadapan semua manusia.
Postinglah hal yang ingin kamu sampaikan, tanpa ada pengharapan apapun. Hilangkan penghakiman ilusi yang ada dalam pikiranmu ketika postinganmu miskin reaksi.
Terimakasih telah membaca tulisanku yang mirip dengan labirin tak berkesudahan. Aku tidak tau tulisan ini akan bermanfaat atau menjadi sampah dalam pikiranmu dan membuang waktumu.
Saturday, January 9, 2021
Energi Yang Menghantam Dirimu
Rutinitas pagi hari, semua orang terlihat terburu-buru dan tergesa-gesa mengemudikan kendaraanya dan aku meradang. Aku meradang karena kendaraan di sekitarku menyerobot hak jalan dari arah yang berlawanan. Apa yang mereka cari? apa yang mereka perjuangkan? apa yang mereka harapkan dari dunia ini? Mati-matian sampai lupa akan harga diri, keselamatan diri.






