Friday, August 15, 2025

Mensyarah lagu Hearts burst into fire - Bullet for my valentine




I'm coming home!

I've been gone for far too long!
Do you remember me at all?
I'm leaving
Have I fucked things up again?
I'm dreaming
Too much time without you spent!

It hurts!
Wounds so sore!
Now I'm torn
Now I'm torn

I've been far away
When I see your face
My hearts burst into fire!
Hearts burst into fire!

You're not alone
I know I'm far from home!
Do you remember me at all?
I'm leaving
Do you wait for me again?
I'm screaming
No more days without you spent

It hurts!
Wounds so sore!
Now I'm torn
Now I'm torn

I've been far away
When I see your face
My hearts burst into fire!
Hearts burst into fire!

My bed's so cold, so lonely
No arms, just sheets to hold me
Has this world stopped turning?
Are we forever to be apart?
(Forever to be apart)

It hurts!
Wounds so sore!
Now I'm torn
Now I'm torn

I've been far away
When I see your face
My hearts burst into fire!
Hearts burst into fire!

I'm coming home
I've been gone for far too long!
(I'm coming home)
Do you remember me at all?
Do you remember me at all?
I'm leaving
I'm screaming
I'm dreaming
My hearts burst into fire!

Syair lagu ini merupakan ungkapan hati seorang insan yang telah lama berpisah dari orang yang dicintainya. Ia mengandung unsur kerinduan (shawq), penyesalan (nadam), kesedihan (huzn), dan harapan untuk kembali (rujūʿ). Secara lahir, ia menggambarkan hubungan manusia dengan kekasih duniawinya. Namun secara batin, ia dapat dimaknai pula sebagai hubungan seorang hamba dengan tanah kelahiran, keluarga, atau bahkan dengan Tuhannya setelah lama lalai.

Syarah Bait per Bait

1. "I'm coming home! I've been gone for far too long! Do you remember me at all?"

Makna lahir: Penegasan tekad untuk kembali setelah perjalanan panjang yang melelahkan, disertai kekhawatiran apakah masih diingat.
Makna batin: Seorang yang kembali dari "pengasingan batin", bertaubat setelah lama lalai, takut tidak lagi dikenang atau diterima oleh yang dicinta.

2. "I'm leaving, Have I fucked things up again? I'm dreaming, Too much time without you spent!"

Makna lahir: Ia mengakui kemungkinan telah mengulangi kesalahan, merenung dalam mimpi, dan merasakan jarak waktu yang menyakitkan.
Makna batin: Kesadaran akan dosa yang berulang, rasa bersalah, serta kerinduan yang mendesak untuk memperbaiki keadaan.

3. "It hurts! Wounds so sore! Now I'm torn"

Makna lahir: Luka batin yang terbuka kembali, membuat hati tercabik.
Makna batin: Luka hati akibat keterpisahan adalah ujian yang memecah jiwa, namun di sanalah tempat pembentukan keteguhan.

4. "When I see your face, My hearts burst into fire!"

Makna lahir: Perjumpaan kembali dengan yang dirindukan menyalakan semangat dan emosi yang membara.
Makna batin: Melihat tanda-tanda kekasih (baik itu manusia atau Tuhan) membakar hati dengan cinta yang menghidupkan.

5. "My bed's so cold, so lonely, No arms, just sheets to hold me"

Makna lahir: Kesepian fisik yang nyata.
Makna batin: Kehampaan batin saat kehilangan kehangatan kasih, menandakan manusia diciptakan untuk berhubungan, bukan hidup sendiri.

6. "Has this world stopped turning? Are we forever to be apart?"

Makna lahir: Pertanyaan retoris yang mencerminkan rasa kehilangan arah.
Makna batin: Ketika cinta terputus, dunia terasa hampa; ini adalah bentuk kesadaran akan nilai hadirnya sang kekasih.

Kesimpulan (Khatimah)

Lagu ini, bila disyarahi seperti tafsir para imam, bisa dilihat sebagai:

  • Lahir: Kisah cinta yang dirundung jarak dan rindu, disertai rasa bersalah dan kerinduan yang membara.

  • Batin: Perjalanan jiwa yang jauh dari sumber cintanya (Tuhan, keluarga, kampung halaman), lalu kembali dengan rasa harap, takut, dan cinta yang menyala.

Pesan singkat: Kerinduan yang murni akan mendorong seseorang untuk kembali, meski penuh luka dan kesalahan. Api cinta itu yang memberi kekuatan untuk melangkah pulang.


Monday, June 26, 2023

Nietzsche dan Amor fati

 


Friedrich Nietzsche, seorang filsuf abad ke-19, memiliki pemikiran yang unik tentang amorfati. Konsep amorfati dalam pemikiran Nietzsche mengacu pada penerimaan dan keberanian dalam menghadapi realita, termasuk penderitaan dan ketidakpastian hidup.


Bagi Nietzsche, amorfati adalah keberanian untuk melihat kehidupan dengan segala kompleksitas dan paradoksnya tanpa mencari pembenaran atau arti yang objektif. Ia menolak pandangan bahwa ada tujuan tertinggi atau arti baku dalam kehidupan manusia. Sebaliknya, Nietzsche menekankan pada pentingnya menerima kenyataan sebagai sumber kekuatan dan kebijaksanaan.


Nietzsche berpendapat bahwa manusia cenderung mencari arti dan tujuan dalam kehidupan, tetapi ia menolak gagasan bahwa ada tujuan atau makna yang ada secara inheren di alam semesta. Menurutnya, keyakinan pada tujuan atau makna absolut hanya menghasilkan kekecewaan dan kehancuran. Oleh karena itu, Nietzsche membawakan konsep amorfati sebagai alternatif untuk mencapai kebebasan dan kebahagiaan yang sejati.


Dalam pandangan Nietzsche, amorfati bukan berarti apatis atau pasif. Sebaliknya, amorfati melibatkan penerimaan penuh terhadap realitas yang ada dan keberanian untuk hidup dalam ketidakpastian. Nietzsche percaya bahwa dengan menerima realitas yang ada dan tidak mencari pembenaran atau arti yang objektif, manusia dapat menemukan kebebasan dan kreativitas yang murni. 


Dalam karyanya yang terkenal, Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche menekankan pentingnya mengadopsi sikap amorfati sebagai jalan menuju kehidupan yang penuh makna. Ia mengajak manusia untuk melampaui pemahaman konvensional tentang kebaikan dan kejahatan, serta menemukan kekuatan dalam menerima hidup dalam segala aspeknya.


Pemikiran Nietzsche tentang amorfati tidak terlepas dari konteks pemikiran dan pandangannya yang lebih luas. Ia adalah seorang kritikus tajam terhadap idea fixed termasuk agama dan moralitas tradisional, serta memiliki pandangan yang kompleks tentang eksistensialisme dan perspektivisme. Oleh karena itu, pemahaman tentang konsep amorfati Nietzsche harus melibatkan eksplorasi yang lebih mendalam terhadap karya-karyanya secara keseluruhan.

Saturday, June 24, 2023

Muhammad Iqbal dan Islam


Muhammad Iqbal atau Allamah Iqbal adalah seorang filosof, politisi sekaligus penyair Muslim yang mementingkan perbuatan atau tindakan. Sebagai seorang filosof yang membela perlunya manusia melakukan tidakan, ia tidak menyetujui pendapat, bahwa tugas seorang filosof tidak lain hanyalah "untuk memahami dunia". Baginya, dunia bukanlah sesuatu yang hanya harus dilihat atau dikenal melalui konsep-konsep, tetapi sesuatu yang harus dibentuk dan dibentuk lagi melalui tindakan yang tak pernah berhenti. Pengetahuannya yang mendalam mengenai Islam dan dibarengi dengan penguasaannya yang tinggi terhadap sistem pemikiran filsafat Barat, menjadikan dia sebagai seorang Muslim yang sangat kritis terhadap perkembangan dunia Islam.


Pada masa awal kehidupannya, kondisi sosial-politik dan keagamaan ummat Islam, berada pada titik kehancuran. Islam yang dipahaminya sebagai agama yang sangat dinamis dan progresif telah kehilangan dinamika dan kreativitasnya. Ummat Islam yang dahulu menjadi sumber inspirasi pengetahuan dan pencipta-pencipta peradaban, menjadi lumpuh, tak berdaya dan kehilangan daya tariknya. Agama yang mereka anut tidak lagi Islam yang murni, melainkan Islam yang telah bercampur dengan faham dan praktek tarekat maupun sufistik. Kebebasan berpikir dan berkehendak menjadi tabu atau haram, karena adanya claim atau otoritas tertentu yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Sikap dan pemahaman ortodoksi yang bersifat skolastik serta pengulangan kata-kata yang melebihi dari cukup dan tidak luwes, mewarnai kehidupan mereka. Akibatnya, pemikiran Islam terkesan kaku, normatif dan monolitik.


Semua kondisi ini, menyadarkan dirinya untuk membangun suatu konsep atau gagasan, guna merespon, mengantisipasi dan sekaligus memobilisir semangat ummat Islam yang telah hilang dan ditinggalkan selama berabad-abad lamanya. Mula- mula ia membangun konsep ego, kedirian atau personalitas, yang merupakan pusat dan landasan keseluruhan organisasi kehidupan manusia atau sebagai ego yang menyadari akan eksistensi dirinya, lalu dengan kesadaran personalitas ini, ia menerapkan konsep kebebasan, sebagai manifestasi diri dan rasa tanggung jawab manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi. Dan akhirnya, kedua konsep ini menurutnya tidak akan memiliki makna apa-apa, bila tidak dibarengi dengan perbuatan atau tindakan.


Oleh karena itu, implementasi konsep tersebut, ia wujudkan dalam bentuk kritikannya terhadap sistem pemikiran dalam Islam, terutama khazanah pemikiran Islam klasik. Ia mengeritik para teolog, filosof dan sufi Islam, karena kecenderungan berpikir Hellenistik mereka yang bersifat metafisik dan spekulatif. Padahal al-Qur'an pada dasarnya anti klasik dan sangat menjunjung tinggi hal-hal yang bersifat empirik. Ia juga mengeritik kalangan Sunni yang telah memagari ijtihad mutlak dan syarat-syarat yang hampir tak mungkin direalisasikan dalam diri seseorang, dan menegaskan ketidaksetujuannya dengan doktrin tertutupnya pintu ijtihad.


Dengan pengamatan Iqbal yang tajam terhadap keempat disiplin ilmu keislaman klasik, ia berkesimpulan bahwa kemunduran ummat Islam disebabkan karena sikap dan budaya mistisisme asketik yang mematikan dinamika.Dan juga adanya idealisasi capaian-capaian masa lampau yang memberhalakan pemikir-pemikir besar. 


Karena itu, kemajuan ummat Islam hanya bisa bangkit atau diperoleh kembali, jika ummat Islam menyadari akan pentingnya kehidupan duniawi yang dinamis dan progresif, digantikannya sistem berpikir atau epistemologi yang bercorak rasionalisme menjadi epistemologi yang bercorak empirisme, dan menemukan kembali dasar-dasar kemerdekaan yang universal dengan prinsip ijtihad atau prinsip gerak dalam struktur Islam.


Maka dari itu untuk mengantisipasi dan sekaligus merealisasikan semangat berpikir Iqbal,  berdasarkan sistem dan metode berpikir filosofisnya, terbentuklah suatu faham kebebasan dalam Islam, yang disebut dengan liberalisme Islam, yaitu suatu paham kebebasan yang berkeinginan merekonstruksi dan membumikan ajaran-ajaran agama secara nyata dalam kehidupan modern, berdasarkan nilai- nilai al-Qur'an.


Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/526921225132154825/

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Iqbal

https://media.neliti.com/media/publications/58165-ID-none.pdf

http://repository.iainpalu.ac.id/932/1/GAGASAN%20ISLAM%20LIBERAL%20MUHAMMAD%20IQBAL.pdf

Rekonstruksi Pemikiran Islam - Muhammad Iqbal

Thursday, June 22, 2023

Stigma keimanan yang lemah

 Kelemahan iman sering dianggap buruk bagi para pengiman agama, tentu saja benar adanya. Orang-orang yang ingin bunuh diri, keluar dari agama yang dianut atau berselisih paham dengan kebanyakan para pemuka agama. Inilah yang disebut imannya lemah oleh mereka yang imannya kuat dalam beragama. 


Karena dogma yang dipatenkan terhadap kegoncangan iman adalah awal dari segala permasalahan ini. Terlebih lagi karena disangkutpautkan dengan murkanya Tuhan. Bukan saja Tuhan yang murka tapi para pengimannya juga akan ikut ikutan murka. Tapi memang begitulah standar keimanan yang populer. 


Kebenaran kolektif semacam ini, membuat orang orang yang terindikasi imannya lemah akan terisolasi dan bertaqiyah atau jadi bunglon demi keharmonisan hidup bersosial. Manner is matter. 


Sunday, March 5, 2023

Pengakuan dan Do'a

Tuhan, maafkan aku dari kebodohanku yang mempunyai pemikiran campur baur ini. Aku bunkannya tidak mau belajar dari "guru" tapi rasa skeptisku dari hari ke hari semakin meningkat. 

Aku mempelajari banyak hal dari orang-orang yang kutemui/dapati dan tidak memandang agama mereka. Aku hanya sedang mencari kebenaran yang memenangkan dalam hati dan akalku. 

Aku juga tidak peduli mendapatkan umpatan sesat dari orang-orang yang hanya mengulang pelajaran itu-itu saja. Padahal kitab-kitabMu terutama kitab yang terakhir Kau turunkan banyak makna yang dinamis namun tujuannya tetap sama untuk menjaga kesadaran umat manusia.

Monday, November 14, 2022

Mempertontonkan Ketelanjangan




Sesekali pernah kuberpikir, mereka yang ada di video tiktok joged joged, ngelawak, dan apapun itu yang menurutku menghancurkan harga dirinya, kenapa mereka bisa melakukan hal itu? Apa karena uang? Popularitas atau apa? 

Apakah mungkin mereka sadar bahwa mencari uang untuk mencukupi kebutuhan hidup sangatlah susah. Sehingga mereka dengan terpaksa atau disengaja tampil merendahkan diri di internet. 

Tidak berhenti di sana, bahkan ada platform yang membebaskan penggunanya untuk bertelanjang ria memamerkan sekujur tubuhnya. Mayoritas pemainnya memang perempuan,  saya belum menemukan laki-laki ada dalam platform itu. Tapi kalo sebagai viewers tentu saja banyak. 

Dalam hatiku bertanya-tanya, kok mereka tidak malu mempertontonkan ketelanjangan itu dengan mengemis gift/hadiah dari para penontonnya. Sesulit itukah mencari uang untuk mencukupi kebutuhan hidup? 

Di waktu yang bersamaan aku menangis dan tertawa, sulit kejelaskan bagaimana perasaanku ketika dunia memperlihatkan wajah aslinya kepadaku. Atau mungkin itu hanya pandanganku saja, belum tentu orang lain sama dengan apa yang kulihat.

Tuesday, November 8, 2022

Jangan Tanya Apa Agamaku - Jalaluddin Rumi (Puisi)



Jangan tanya apa agamaku.

aku bukan yahudi.

bukan zoroaster.

bukan pula islam.


karena aku tahu,

begitu suatu nama kusebut,

kau akan memberikan arti yang lain

daripada makna yang hidup di hatiku.


Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?

Aku tidak mengetahui diriku sendiri.

Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,

bukan Majusi, bukan Islam.

Bukan dari Timur, maupun Barat.

Bukan dari darat, maupun laut.

Bukan dari Sumber Alam,

bukan dari surga yang berputar,

Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;

Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;

Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;

Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;

Bukan dari dunia kini atau akan datang:

surga atau neraka;

Bukan dari Adam, Hawa,

taman Surgawi atau Firdaus;

Tempatku tidak bertempat,

jejakku tidak berjejak.

Baik raga maupun jiwaku: semuanya

adalah kehidupan Kekasihku ...



Monday, October 17, 2022

Metamorfosis Ruh Manusia


 

Nietzsche membagi metamorfosis Ruh Manusia menjadi tiga simbol


🐪🦁👶


Unta diibaratkan sebagai binatang penurut, yang patuh terhadap semua tatanan norma (budaya, agama, mitos-mitos dsb. Masa masa dirimu yang polos dan manut walau sebenarnya hatimu terbebani. 


Singa yang berlagak sok kuat, pemberontak dan ingin menguasai tatanan moral atau malah ingin memutarbalikkan tatanan yang sudah ada. Masa ketika kamu tumbuh dewasa dan mempertanyakan hal-hal yang sepertinya ada yg gak beres dalam hidupmu atau mulai menyadari bahwa semua itu omong kosong. Dan kamu mulai bisa mengatakan "Nggak" terhadap apapun yang membebani hatimu. 


Bayi, makhluk polos yang belum tahu tentang apapun dan mengatakan "Ya" dengan hati yang tulus tanpa curiga terhadap takdir yang dihidangkan. Ia bermain dengan takdir riang gembira, menangis dengan puas lalu menari dengan sejuta keinginan sucinya. 


Bayi, bagi Nietzsche adalah simbol pembebasan dari hasrat apapun. Menerima takdir sepenuh hati. Amor Fati ❤️





Sunday, July 10, 2022

Ritual Pengorbanan (Catatan Mimpi)


Di mimpiku kali ini, aku tidak bisa mengatakan mimpi ini buruk atau mimpi yang baik. Di sini aku seperti berpetualang ke suatu tempat antah berantah. Dan di sini pula aku menempati sebuah rumah kontrakan, yang sedang kutempati sekarang namun berbeda tempatnya. Tempat kontrakan dalam mimpiku persis di tengah persawahan, namun setiap sawah diselingi dengan rumah yang berjajar. 

Suatu momen mengerikan datang, tiba-tiba badai, angin dordar gelap menghampiri hanya beberapa detik saja. Lalu di ujung sebuah kontrakan berjejer ada seorang laki-laki jepang berlari ketakutan yang ternyata telah diikuti dengan dua orang manusia berpakaian medis dan satu makhluk bagaikan tokoh wayang, seluruh tubuhnya mirip kera. Dua orang medis tadi membawa gunting raksasa dan si kera berjalan dengan angkuh di depannya. 

Kembali ke momen badai tadi, bahwa ternyata menurut seorang warga yang telah menetap lama di sini *karena aku adalah penghuni baru di tempat ini di mimpi ini*  badai tadi menandakan bahwa harus ada pengorbanan kurban warga *ritual yang ada di tempat ini ketika muncul badai sepersekian detik tadi* yang tinggal di tempat ini dengan dieksekusi menggunakan gunting raksasa yang di bawa dua orang medis. 

Laki-laki jepang akhirnya menyerah karena kelelahan lalu kedua medis menggunting leher leleki jepang dengan keadaan berbaring miring atas komando sang kera yang mirip dengan tokoh wayang. *aku tidak begitu tahu tentang tokoh-tokoh wayang namun aku pernah melihat sebelumnya*

Tidak berhenti disitu, kurban terus berlangsung, warga yang menempati kontrakan berjejer tersebut disuruhnya keluar untuk menjadi bahan pengorbanan yang entah apa maksudnya. 

Maka sampailah di tempat kontrakanku setelah beberapa warga dieksekusi mati dalam keadaan takut dan banyak juga yang pasrah dan gagah berani. Pada saat itu aku tidak sedang di kontrakanku, aku berada di kontrakan warga yang telah lama tinggal di tempat ini. Namun anehnya si ibu ini *warga lama* tidak lantas memberitahukan keberadaanku. Lalu aku mulai bertanya pada ibu ini. 

"Pengorbanan ini maksudnya untuk apa dan butuh berapa orang warga untuk dikorbankan" 

Si ibu menjawab dengan wajah yang datar dan tenang "Sampai sang raja *si kera* mengatakan berhenti dan puas"

"Oke, lalu untuk apa pengorbanan ini, bukankah hidup dan mati ditangan Allah" sahutku

Gadis kecil menjawab *mungkin anak si ibu* "Justru inilah perintah Allah, melalui sang raja kita harus patuh dan tunduk. Karena ridho sang raja adalah ridho Allah juga"

Aku tidak menimpalinya namun aku berpikir keras dan hampir saja aku menyetorkan nyawa pada si kera itu. Aku mempertahankan ego dan keyakinanku bahwa hidup dan mati tetap Allah yang mengaturnya. Namun aku masih terngiang-ngiang dengan perkataan bocah kecil tadi. "ridho sang raja adalah ridho Allah"

Apakah aku takut mati? dikala orang lain dengan gagah berani berserah menyetorkan nyawanya tanpa rasa takut sama sekali. Tapi aku juga sangat ragu, apakah kematian yang ditempuh dengan jalan ini adalah sebuah keridhoanNya? 

Ini sangatlah absurd bagiku.. Lalu scene mimpi berganti dengan scene yang tak kuingat lagi.



Friday, October 22, 2021

Hidup Tanpa Kompetisi



Di waktu yang lalu hidup ini kusadari adalah sebuah kompetisi. Kita hidup harus sampai pada puncak kesuksesan. Namun kesuksesan itu maknanya sangat pribadi, rumit, entah kapan datangnya dan pastinya fana. Semua ini adalah pemaknaan pribadi.

Tapi benarkah hidup ini adalah kompetisi? Mengawali hari dengan terburu-buru, makan, minum, mandi, berangkat kerja supaya tidak terlambat, semuanya serba terburu-buru. Dan sialnya itu terus terulang. Ini tidak salah tapi cobalah pikirkan lagi.
Sampai-sampai ada yang nyeletuk.. Dasar Robot!
Sejak kapan sih, acuan hidup ini adalah ajang saling mengunggulkan diri? Seperti berlangsung begitu saja pada saat kita dewasa dan banyak berpikir.
Jika dipikirkan kembali, sebenarnya kehidupan ini tidak menuntut apa-apa dari kita. Kitalah yang menuntut sesuatu untuk menjadi sesuatu.
Berlomba meraih kehormatan, validasi, harta benda, dan yang lainnya untuk jaminan hari tua yang entah sampai atau tidak.
Sampai rela mengorbankan hati dan pikiran.
Dan benarkah dengan menempuh hidup sebagai perlombaan adalah jalan menuju kesuksesan? Yang mana sukses pun masih sangat abstrak seperti apa, dan bagaimana rasanya. Karena kita selalu belum bisa menuju ke sana.
Lalu pada akhirnya yang manusia butuhkan hanyalah ketenangan dan kedamaian.
Silakan, tanyakan pada diri masing-masing, untuk apa semua hal yang kita lakukan dan kumpulkan?
Bukankah yang di atas tadi adalah jawabannya.
Mari kita simak apa yang dikatakan Winston Churcill, "Kita hidup dari apa yang kita dapatkan, dan kita bahagia dari apa yang kita berikan". Sesimpel itu. Dan jika kita masih ingin berlomba, berlombalah dalam kebaikan seperti yang telah termaktub dalam al Quran, fastabiqul khoirot.
Saling berbagi, saling melengkapi supaya kita bisa seimbang.